Jaman dulu, yang namanya pahlawan adalah orang yang memanggul senjata dan berjuang melawan musuh. Kemudian berkembang menjadi seseorang yang tidak harus memanggul senjata tapi berjuang demi kemajuan bangsa, seperti guru atau dosen. Untuk anak-anak, pahlawan punya kriteria khusus. Harus mampu terbang, punya senjata rahasia, kalo perlu bisa berubah wujud menjadi robot dan mengalahkan monster. Yah itulah gambaran pahlawan saat ini.
Tapi, apakah ada manfaatnya menjadi pahlawan? Kalau pertanyaan itu diajukan ke saya, maka jawabannya adalah ADA! Tentu bukan pahlawan kesiangan yang cuman cari sensasi sesaat atau maling berkedok pahlawan. Satu hal yang prinsip dari pahlawan adalah kemauan untuk berguna bagi orang lain. Kalau manusia masih punya hati nurani, pasti keinginan untuk berguna bagi orang lain masih tinggi. Dan saya yakin, berguna bagi orang lain akan menimbulkan kepuasan batin tersendiri bagi pelakunya. Kepuasan batin adalah sesuatu yang langka. Tapi sekali kita mendapatkannya, kita akan mencoba untuk mendapatkannya lagi.
Tentu saja untuk menjadi pahlawan tidak semudah membalik telapak tangan, tapi juga tidak sesulit membalik gunung. Kita dapat memakai “HERO” untuk menjadi pahlawan.
Honesty (kejujuran)
Pahlawan sejati harus mengedepankan kejujuran. Pertama kali adalah jujur pada diri sendiri. Tanyakan pada hati kecil kita, apakah tujuan kita menjadi pahlawan? Kalo cuman cari sensasi atau pamrih, mending kubur dalam-dalam keinginan menjadi pahlawan. Pahlawan harus tulus. Tidak perlu pengakuan dan hal-hal lain semacamnya.
Dan selanjutnya, tentu saja harus jujur dengan orang lain. Bagaimana mungkin ada seorang pahlawan yang tidak jujur pada orang lain? Mending jadi penipu daripada jadi pahlawan bila kita tidak jujur pada orang lain.
Empathy (kemauan dan kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain)
Saat ini, menemukan orang yang empati seperti mencari jarum di lautan. Susah banget! Dengan kesibukan orang-orang di jaman yang serba cepat dan individualistis ini, tidak mengherankan kalo semua orang pada sibuk dengan urusan masing-masing. Boro-boro ngurusin masalah orang lain, masalah sendiri aja gak kelar-kelar. Khusus untuk peminat pahlawan, empati adalah hal yang mutlak. Memang kita harus memikirkan diri kita. Tapi, apakah 24 jam sehari dalam kehidupan kita tidak cukup untuk mencoba merasakan apa yang dirasakan orang lain? Bagaimana kita bisa berguna untuk orang lain, kalo kita sendiri tidak mau peduli dengan apa yang dirasakan orang lain?
Religious (agamis)
Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya agama dengan pahlawan? Hubungannya erat sekali. Agama adalah fondasi dari semua aktivitas kita di dunia. Hanya orang yang beragama yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Pahlawan identik dengan perbuatan yang benar. Agama dapat menuntun kita untuk melakukan perbuatan yang benar.
Optimist (optimis)
Optimis adalah bahan bakar dari seorang pahlawan. Pahlawan harus optimis dalam memandang hidup. Hidup itu indah. Tidak pantas dinikmati oleh seorang pesimis (baca: pecundang). Dengan membuat diri kita optimis dalam memandang hidup, sebenarnya kita sedang menyebarkan virus. Virus yang sangat kuat. Optimis adalah sesuatu yang menular. Jika anda adalah seorang yang optimis, sadar atau tidak, sebenarnya anda sedang membuat orang lain sama dengan anda. Sama-sama optimis! Bukankah menyenangkan bila dunia dipenuhi dengan orang yang optimis? Orang yang bersemangat dalam menghadapi tantangan hidup. Orang yang selalu mengatakan ”Tak ada yang mustahil di dunia ini”. Pasti menyenangkan bila hidup di dunia seperti itu.
Semua orang dapat menjadi pahlawan. Tua atau muda. Kaya atau miskin. Pria atau wanita. Yang paling penting adalah niat. Seberapa besar niat anda untuk menjadi pahlawan, itulah yang menentukan anda layak untuk menjadi pahlawan atau pecundang.
- Judul : BECOME A HERO? WHY NOT?
- Penulis : syafril riza
- Kategori :
-
Rating : 100% based on 10 ratings. 5 user reviews.
Item Reviewed: BECOME A HERO? WHY NOT?
9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.

0 comments