Nyaman
memang melenakan. Kadang kita gak sadar kalo ada beberapa kenyamanan yang
seharusnya kita gak boleh nikmati. Misalnya, nyaman dengan situasi saat ini
yang membuat kita malas untuk berubah lebih baik atau nyaman dengan seseorang
atau sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita.
Nyaman
versi lain bisa juga dari sisi pasangan. Ada pasangan yang nyaman untuk dibawa
kondangan saja atau nyaman diajak diskusi saja. Idealnya sih bisa dapat
keduanya dalam satu orang. Ada sih…. Tapi sempurna amat yah?... hehehehe
Ok,
back to nyaman versi kondangan saja, tapi gak cukup nyaman untuk diajak diskusi.
Nyaman versi kondangan biasanya saat kita merasa pede dengan penampilan
pasangan kita. Si dia sangat tampan atau cantik plus menarik dan kita yakin
bahwa semua mata akan memandang penuh kagum pada pasangan kita dan memandang
penuh sirik pada kita. Masalahnya adalah seberapa sering sih kita datang
kondangan? Gak tiap hari kan? Padahal diskusi dengan pasangan almost everyday
lho. So, tau kan rasanya diskusi gak nyambung padahal intensitas diskusi kita
lumayan sering. Pasti gak seru karena beda frekwensi, kita udah 4G LTE… eh
dianya masih CDMA. Dan remember! Hubungan seseorang gak bisa hanya saat kondangan,
this is for good.
Beranjak
pada nyaman versi diskusi aja. Pasangan model kayak gini biasanya bikin betah
ngobrol lama karena pasti ada aja topik yang bisa didiskusikan. Mulai yang
absurd ampe yang kekinian. Gak ada matinya deh karena frekwensinya sama,
sama-sama 4G LTE. Cuma kadang emang gak
bisa seheboh nyaman versi kondangan saat diajak kondangan. Biasanya dia akan
berbusana yang nyaman tapi tetap sesuai dengan occasion, tapi tetap gak cukup
menarik perhatian. Dan yakinlah, mungkin hanya sedikit orang yang mengagumi
pasangan kita dan sedikit orang yang memandang sirik pada kita. Istilah lainnya
adalah aman buat kita, aman buat pasangan kita, dan aman buat orang lain karena
terhindar dari dosa sirik, not syirik lho!
Lantas,
nyaman mana yang terbaik? Yang terbaik tentu saja yang nyaman diajak kondangan
plus diskusi. Tapi nyaman model gitu cuma jatah orang-orang yang beruntung. Terus,
bagaimana kalo kita bukan termasuk yang beruntung? Kita kembalikan lagi pada
kebutuhan. Kalo kita butuhnya untuk meningkatkan harga diri kita pas kondangan,
sepertinya nyaman untuk kondangan doang yang pas. Tapi kalo butuh yang seru
untuk diskusi, pastinya yang nyaman untuk diajak diskusi yang layak dipilih.
Intinya sih balik lagi ke kita, berapa “harga” yang sudi kita “bayar” untuk
nyaman versi kita. Pertimbangkan lagi konsekuensi dari pilihan kita. Toh hidup
memang tempat untuk memilih dan yang terpilih.
So,
sudahkah kamu menemukan versi nyamanmu?
0 comments