“Apa yang menurutmu baik, belum tentu baik menurut Allah dan
apa yang menurutmu buruk bisa jadi yang terbaik menurut Allah”
Hal itu terjadi hari ini. Hari ini ada kejadian luar biasa yang
menimpa saya dan istri. Bukan hal yang disengaja bila saya dan istri punya
kerjaan yang sama, yang membuat saya dan istri harus sering keluar kota untuk
menyelesaikan beberapa project. Kerja lho! Bukan honey moon! Kali ini kota yang
harus kami kunjungi untuk sebuah project adalah Bogor.
Setelah keluar dari rumah adik ipar, tempat kami menginap di
Bogor, kami menyadari bahwa handphone kami ternyata ketinggalan di rumah. Handphone
saya dan handphone istri saya. Kesalahan yang fatal. Balik ke rumah adik ipar
saya jelas gak mungkin. Kota Bogor yang macetnya bujubuneh dan kami yang sudah ada
di jalan tol menuju Sentul langsung bikin ilfil untuk balik. Okelah.. Kami
terima takdir ini.
Kami sempat berpikir bahwa kami sudah kembali ke zaman batu.
Zaman dimana kami harus berkomunikasi langsung tanpa media apapun. But, wait a
minute… Apakah ini jadi malapetaka kami di hari ini?
Ternyata tidak. Allah memberikan nikmat di balik kelupaan
ini. Sepanjang perjalanan menuju lokasi project, kami terus ngobrol. Obrolan
berkualitas yang sepertinya sudah lama kita tidak lakukan karena kesibukan
kami, dan mungkin juga karena handphone yang telah sukses “memisahkan” kita.
Pokoknya, sepanjang
perjalanan kita jadi semakin dekat karena obrolan. Karena istri saya pernah
berkuliah di kota ini, di Institut Pertanian Bogor, saya jadi semakin tahu
banyak tentang karakteristik kota ini. Seusai dari lokasi project, kami lanjut
ke kampus lamanya di wilayah Baranangsiang. Disinilah istri saya mengenyam beberapa
mata kuliahnya. Nostalgia katanya. Kampus ini keren banget. Bangunan kolonial Belanda
yang disebut Presiden pertama Indonesia sebagai Universitas Indonesia Fakultas
Pertanian. Yup, sang proklamator menyebutnya demikian. Bahkan saya melihat prasasti
yang ditandatangani oleh beliau dalam peresmian kampus ini. Darimana saya tau
informasi ini? Dari obrolan saya dengan istri saya sepanjang jalan setapak di
kampus ini. Memang gak ada foto keren yang bisa saya pamerkan di Instagram atau
Path terkait jalan-jalan saya di kampus ini karena handphone kami tertinggal. Tapi kami gak akan pernah lupa kekerenan
obrolan kami sepanjang perjalanan hari ini.
Setelah nyari jajanan khas kota Bogor, kami balik ke rumah
adik ipar saya. Langsung kami ngecek handphone kami. Dan Alhamdulillah… tidak
ada panggilan atau email atau apapun yang penting yang masuk ke handphone kami.
Di masa depan, kami memang tidak berharap ketinggalan
handphone lagi. Tapi bila ketinggalan lagi, kami tidak akan takut lagi!
Sudah siap ketinggalan handphone?
0 comments