Suatu hari, di akhir sesi training saya, beberapa orang peserta
training mendekati saya. Salah satunya bertanyar: “Gimana cara mas Syafril bisa
jadi motivator yang keren kayak gini? “. Spontan saya menjawab: “Please, don’t ever call me motivator. I am a
just a teacher. “. Lagipula
training yang saya bawakan juga bukan training motivasi.
So, kenapa saya menjawab seperti itu:
Ini alasannya:
- Beberapa orang memang mengakui bahwa dia adalah seorang motivator. Bisa terlihat jelas di kartu namanya “M O T I V A T O R”. Saya gak ada masalah dengan profesi motivator. Namun yang terjadi adalah, kebanyakan motivator hanya dapat berucap kata-kata indah namun tak jelas penerapannya. Selain itu, banyak motivator yang hanya bisa menjual mimpi tanpa melihat kenyataan. Bukan berarti saya makhluk pesimis. Tapi dengan mempertimbangkan kenyataan, mimpi kita bisa terarah dan achievable.
- Percuma kalimat-kalimat indah nan penuh semangat bila tak mampu menggerakkan orang lain untuk segera bertindak. Bukan hanya bisa berteriak-teriak penuh semangat di sesi energizer atau menangis di sesi renungan yang biasanya lazim ada di training motivasi. Pergerakan ke arah yang lebih baik after training, itulah yang kita butuhkan.
- Saya sangat percaya bahwa motivator terbaik adalah diri sendiri. Kita boleh bayar sekian ratus ribu rupiah untuk ikut training motivasi, tapi bila kita tidak segera bertindak untuk perubahan yang lebih baik setelah training motivasi, sepertinya sia-sia duit sebanyak itu. Kitalah pemilik perubahan diri kita. Allah sudah memberikan mekanisme yang luar biasa dalam diri kita untuk memotivasi diri sendiri serta menggerakkan tubuh kita untuk bergerak sesuai motivasi kita. Tak ada mekanisme sebaik mekanisme yang diberikan oleh Allah. Termasuk mekanisme untuk memotivasi diri sendiri.
So, apakah kita tidak boleh ikutan training motivasi atau baca buku motivasi?
Boleh banget! Karena kadang kita butuh atmosfer yang bisa memotivasi kita untuk
berubah. Training motivasi dan buku motivasi adalah beberapa cara untuk
mendapatkan atmosfer itu. Namun yang perlu diingat adalah jangan pernah
menganggap bahwa kita berubah lebih baik karena seorang motivator atau karena seseorang.
Itu terlalu naif dan mengabaikan peran diri kita yang luar biasa untuk
memotivasi diri sendiri. Lagipula, berubah karena seseorang biasanya menghasilkan
perubahan yang gak awet, karena kita berubah karena orang lain mau, bukan kita
sendiri yang mau. Beda halnya kalo kita sendiri yang memotivasi diri kita
sendiri dan sangat menginginkan perubahan yang lebih baik. Kita akan
menggerakkan semua organ tubuh dan indera kita untuk mengikuti motivasi kita. Dan perubahan kayak
gini biasanya..................... awet! Tanpa perlu formalin!
Pada akhirnya, Who is the best motivator? Absolutely, IT’S YOU!!!!!!
0 comments