Sudah jadi kebiasaan saya dan istri saya untuk saling
meminta maaf saat menjelang take off pesawat. Ritual ini sudah lama kami
lakukan mengingat saat naik pesawat kami tak punya kendali apapun terhadap pesawat
yang kami tumpangi. Kami tak tahu apa yang sedang dihadapi oleh pilot dan
kru-nya.Kami benar-benar ada dalam kendali Allah. Sehingga kalaupun ada
kecelakaan pesawat, kami tak pernah tahu pesawat ini telah menabrak apa atau jatuh
di bagian bumi mana. Sehingga kalo kami meninggal, setidaknya skor kami 0 – 0.
Tak ada dendam dalam hati kita.
Saya sangat paham bahwa kesalahan saya yang tidak saya
sengaja, seringkali saya timpakan pada orang yang paling dekat dengan saya.
Paling saya cintai. Istri saya. Pasti banyak sekali sakit hati yang saya timbulkan
padanya. Demikian juga sebaliknya. Istri saya juga punya pemahaman yang sama
dengan saya. Alhamdulillah. Dia juga berpikir bahwa seringkali tanpa sengaja dia
membuat saya kesal dan kecewa. Wajar sih. Dua orang yang saling mencintai,
pasti efek perbuatan yang ditimbulkan salah satunya adalah sangat membahagiakan
atau malah sangat menyakitkan. Tapi itulah resiko pernikahan. Dan kami ambil
resiko itu
Back to wasiat! Kami sangat memahami bahwa kami berdua bisa meninggal
kapan saja. Bisa salah satu yang meninggal duluan atau mungkin meninggal bareng-bareng.
Oleh karena itu daripada pesan maaf itu tak tersampaikan, kami kuatir masih ada
kesal didalam hati yang akan memberatkan hisab kami di alam kubur maupun
akhirat nanti. Lebih baik maaf itu harus terucap lebih dulu.
Kami juga berusaha untuk terus saling berwasiat meski tidak
harus naik pesawat. Dan wasiat kami pun tidak hanya masalah permintaan maaf,
tapi juga bagaimana kita bisa lebih dekat pada Allah kapan saja, dimana saja,
dan dalam kondisi apapun, meski kematian telah memisahkan kita
Pada akhirnya, sudahkah kau berwasiat pada orang yang kau
cintai?

0 comments