Suatu malam jam 23.00 waktu
setempat dimana di Indonesia masih jam 21.00 WIB, seorang mahasiswi menghubungi
saya via LINE dengan sebuah pertanyaan. Jujur saja, sebenarnya cukup malas
menjawab pertanyaan tersebut. Bukan karena pertanyaannya, tapi lebih pada
waktunya. Terlalu malam. Tapi saya segera sadar, dia tidak tahu saya berada
dimana. Toh saya juga masih tersadar sepenuhnya, karena harus menyiapkan
berkas-berkas untuk aktivitas esok hari. Jadi….saya layani pertanyaannya.
Let see the Q an A.
M (Mahasiswi): “Sir, gak ngajar
saya lagi semester genap ini?
S (Saya): “Nggak, napa emangnya?”
M: “Wah…dosen-dosen semester
sebelumnya gak ada yang seseru sir!”
S: “No!...Kamu hanya kurang
effort untuk “menikmati” perkuliahan dosen-dosen tersebut.”
M: “Udah sir!
S: “Coba lagi semester ini.”
M: “Jadi beneran gak ngajar saya?”
S: “Sorry….jawabannya tetap no.
Saya fokus di semester 1 dan 3 aja.”
M: “Ok deh sir. Maaf gangguin
malam-malam. Wassalam sir.”
S: “Wa’laikumsalam warahmatulahi
wabaraktuh”
Mmmm….pembicaraan yang harus
segera saya luruskan.
Pertama. Saya gak seseru itu.
Terlalu berlebihan kalo saya dianggap seseru
itu. That’s too much. Kalo pun saya dianggap seru. Itu hanya salah satu
bentuk nikmat dari Allah yang gak boleh disombongkan. I am nothing. I am just
lucky. Allah is everything. Syafril terlalu banyak kelemahannya.
Kedua. Dosen yang gak seru. Saya
akui beberapa dosen yang “old school” terlalu sering menggunakan bahasa langit
yang hanya para dewa saja yang paham, bukan mahasiswa. Materi kuliah yang
seharusnya dibuat ringan, dibuat seakan-akan jadi momok yang menakutkan.
Diimbuhi cerita bahwa banyak mahasiswa yang gak lulus mata kuliah dosen
tersebut, menjadikan jalan cerita mata kuliah itu lebih mengerikan daripada
pilem “SAW”. Dosen dari zaman kegelapan, yang harusnya paham bahwa menjadi guru
adalah menjadi pembelajar seumur hidup. Bukan puas dengan konsep-konsep lama
yang sudah tidak relevan lagi dengan situasi saat ini. Mereka selalu
berpendapat bahwa mahasiswa yang punya pendapat berbeda dengannya adalah
mahasiswa yang bodoh dan tak paham konsep. Dosen yang sudah selayaknya masuk
museum karena kekunoannya.
Ketiga. Effort mahasiswa. Sudah
jadi rahasia umum para dosen, bahwa mahasiswa saat ini adalah mahasiswa yang
manja. Memang tetap ada yang keren alias punya effort yang kuat untuk belajar
mata kuliah apapun dari dosen manapun. Tapi itu hanya “a selected few”. Justru
yang lebih banyak adalah mahasiswa yang langsung menilai kesan pertama seorang
dosen. Sekali tuh dosen nerangin, langsung nge-judge “seru” atau “gak seru”.
Padahal siapa tau, pertemuan selanjutnya materinya jauh lebih seru daripada
yang pertama, karena materi pertama memang gak bisa dibikin seru. Kalo sudah
termakan isu “karena kesan pertama adalah segalanya”, buyarlah keinginan untuk
menikmati sesi-sesi berikutnya dari dosen yang bersangkutan.
Masalahnya adalah terikat ama
dosen tuh dalam jangka waktu yang lama. Bukan kayak gebetan, yang udah bosen
sebulan langsung dibuang. Nasib mahasiswa di mata kuliah tersebut sangat
tergantung dosen yang bersangkutan. Gak bisa dari pertemuan sekali langsung
dinilai. Butuh waktu. Persis kayak pepatah Jawa, “witing trisno..jalaran soko
nggelibet”. Jadi untuk menikmati mata kuliah seorang dosen, berilah waktu
terhadap dosen tersebut untuk menunjukkan jati dirinya. Plus para mahasiswa
juga harus mencoba memahami karaketeristik masing-masing dosen. Ingat! Gak ada
manusia yang sama. Sama halnya bahwa gak ada dosen yang sama. Jadi memang butuh
effort lebih dari mahasiswa untuk memahami semua dosen pengajarnya. Toh pada
akhirnya, mahasiswa juga butuh ilmunya (baca: nilainya).
Pada akhirnya, memang butuh
kesadaran kedua belah pihak.
Dosen harus paham bahwa zaman
saat mereka masih baheula jauh berbeda dengan zaman mahasiswa saat ini. Dosen
harus menyesuaikan gaya mengajarnya agar sesuai dengan kebutuhan zaman. Toh
kalo mahasiswanya mudeng, pasti dosen tersebut bahagia. Saya yakin gak ada
dosen yang gak bahagia kalo mahasiswanya mudeng. Karena saya juga dosen,
kritikan ini juga berlaku buat saya.
Selain dosen, mahasiswa pun sudah
selayaknya juga kasi effort yang luar biasa. Gak boleh manja. Sekali ada dosen
yang gak enak, mending gak usah kuliah. Titip Absen (TA) jadi senjata paling
ampuh untuk menghindar dari dosen yang dianggap absurd ini. Mahasiswa tipikal
ini seperti anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa. Mahasiswa yang
gak layak untuk dapat tambahan kata “Maha”.
Bukankah dosen dan mahasiswa
seperti dua sisi mata uang. Saling membutuhkan. Saling melengkapi. So, kenapa
tidak memulai untuk belajar saling memahami agar tidak ada sianida diantara
mereka? Eh…agar tidak ada kebencian diantara mereka.
0 comments