Kecewa itu saat………seperti ini.
Saat dimana semuanya harus berjalan sesuai rencana saya. Dimana tidak ada
kesempatan untuk buat rencana cadangan. Dan ternyata…………………..berantakan.
Saya sepenuhnya menyadari bahwa
kadang sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tapi tetap sebagai manusia
biasa, yang sama sekali tidak luar biasa, saya tetap kecewa. Butuh waktu untuk
recovery dan move on. Gak hanya move on, tapi juga move forward.
Namun di sisi lain. Ternyata
recovery, move on, bahkan move forward tidak semudah omongan para motivator.
Karena tiap orang punya tingkat kekecewaan yang berbeda, jadi lupakan saja
omongan para motivator itu. Gak semua kekecewaan bisa sembuh dengan ucapan
motivasi. Banyak yang harus berkorban perasaan, keringat, darah dan air mata.
Haiissshhh…
Back to kekecewaan. Sebenarnya semakin
tinggi harapan seseorang terhadap sesuatu atau seseorang, semakin tinggi resiko
untuk kecewa yang mereka harus tanggung.
So, apakah kita harus punya
harapan yang rendah untuk meminimalkan kekecewaan? Atau lebih baik tidak usah
berharap agar tidak kecewa? NO!! Harapan harus tinggi. Semakin tinggi harapan,
semakin besar usaha kita untuk mencapainya. Tapi siapkan juga cadangan perasaan
yang besar untuk harapan yang tinggi. Agar saat harapan tak sesuai kenyataan,
kita tidak berakhir di kamar mayat dalam kondisi leher terikat tali, kembung
karena lompat ke sungai dan akhirnya tenggelam, atau malah mulut berbusa karena
menenggak obat serangga rasa strawberry.
Pada akhirnya, kalo saat kita
punya kesempatan untuk berharap, tapi kita hanya berani pasang harapan rendah,
atau malah gak berani berharap, lebih baik pikirkan lagi untuk apa lebih lama
hidup di dunia, dimana Allah selalu ada untuk memenuhi harapan kita. Kalau
harapan kita tidak terpenuhi hari ini, siapa tau besok terpenuhi. Bahkan terpenuhi
dengan jauh lebih indah.
So, never lose your hope!
0 comments