“Bro, tar malam enaknya kongkow dimana?” Begitulah suara
lelaki di sebelah saya melalui smartphone-nya.
Kongkow atau di sebagian wilayah Jawa Timur disebut
cangkruk, sudah jadi hal yang lazim. Sekumpulan orang membahas banyak topik, mulai
topik yang absurd hingga yang kekinian. Tak ada batasan usia, jenis kelamin,
pendidikan, dan faktor-faktor demografi lainnya dalam kongkow. Free for all.
All is invited.
Kongkow remaja biasanya diisi dengan obrolan seputar
fashion, tren yang lagi nge-hits di sekolah, cowok cakep atau cewek cantik,
bahkan guru killer maupun guru yang doyan baper (ba-per: bawa perasaan).
Yang lebih dewasa, biasanya mulai diisi dengan topik yang
sedikit lebih berat. Mulai masalah tugas kuliah, skripsi, sampai urusan jodoh.
Yang udah sepuh, didominasi oleh topik politik, keluarga,
hingga agama.
Rasanya tak ada yang salah dengan kongkow. Semua yang
terlibat bebas beropini. Tak boleh ada sakit hati dalam kongkow, karena
harusnya yang hadir dalam kongkow harusnya menikmati obrolan dalam kongkow.
Namun, kongkow akan menjadi kurang produktif bila kongkow hanya sekedar menjadi ajang
silaturahmi sekedarnya, menghabiskan secangkir kopi dan beberapa batang rokok,
serta obrolan absurd tanpa tujuan.
Saya sangat percaya, bila lebih dari 1 manusia berkumpul dan
terlibat dalam sebuah pembicaraan, maka akan jadi kolaborasi yang luar biasa
antar mereka. Jadi, mengapa tidak memulai sebuah obrolan yang produktif?
Obrolan yang bisa jadi ide besar untuk diwujudkan. Yang bisa membuat perubahan bagi
lingkunganmu. Bukankah selalu ada topik yang bisa didiskusikan saat kongkow?
Inilah saatnya kita pilih topik pembicaraan. Topik yang akan membawa maslahat
buat banyak orang.
So, ayo kita mulai GKP (Gerakan Kongkow Produktif) sekarang
juga. Jangan heran, bila suatu saat, kau akan lihat sebuah ide besar yang akan
merubah kehidupan manusia menjadi lebih baik, lahir dari sebuah
persekongkolan…eh, per-kongkow-an.

0 comments