Yang saya ketahui dan yang tak saya ketahui

No comments
Siang hari yang panas ini, di sekitar jalanan Cikini Jakarta, “terdamparlah” saya di sebuah mini market yang punya logo mirip angka tujuh. Layaknya mini market yang lain, mini market ini pun memiliki area kongkow. Yang hobi merokok bisa pake area kongkow di luar. Yang pengen ngadem dan gak ngerokok bisa di area dalam mini market. Karena saya pengen ngadem dari panasnya Jakarta, maka saya memilih kongkow di area dalam.
Dengan ditemani segelas kopi dingin, mulailah saya menyalakan laptop dan menulis untuk kepentingan blog saya. Tanpa sengaja, pandangan saya tertuju pada seorang pria paruh baya di area luar.

Pria tersebut sedang merokok ditemani dengan segelas kopi dan beberapa snack dimejanya.  Di saat yang bersamaan ada seorang anak kecil dengan penampilan dekil tanpa alas kaki sedang  melongok ke dalam tong sampah dekat pria paruh baya tersebut. Berharap ada sisa makanan yang bisa disantapnya. Namun tak ada sisa makanan sedikit pun. Hanya botol kosong dan plastik pembungkus makanan yang bisa diraihnya. Di sisi lain, tanpa peduli, pria paruh baya tersebut terus merokok, minum kopi, dan sesekali memakan snack yang ada di atas mejanya.

Miris melihat dua kondisi yang berbeda disuguhkan oleh Allah dalam waktu yang bersamaan, di tempat yang sama. Spontan otak saya langsung berujar, “Kebangetan! Apakah pria ini tidak punya hati nurani? Apakah dia tidak bisa memberikan sedikit uang atau snack-nya ke anak kecil itu agar si anak tak perlu mencari sisa makanan?”

Well….Hampir saja ujaran otak saya menjadi keyakinan saya. Alhamdulillah, nurani saya langsung berbisik lirih, “Fril, apakah kau sudah melihat keseluruhah kejadian didepanmu? Ataukah kau hanya melihat sebagian saja? Apakah kau tidak berpikir siapa tau pria paruh baya tersebut sudah memberikan uang pada anak kecil tersebut sebelum kau melihat apa yang kau lihat? Apakah kau tidak berpikir, mungkin saja si anak memang sudah diberi uang oleh pria paruh baya tersebut, namun dia menyimpan uangnya untuk membeli makan malam atau obat untuk ibunya, dan dia tetap harus mencari sisa makanan untuk makan siang ini?”

Ya! Memang saya hanya melihat sebagian saja. Tidak keseluruhan kejadian. Jadi saya tidak berhak menghakimi pria paruh baya atau siapa pun. Inilah saya, kadang terlalu gampang mengambil kesimpulan dari yang terlihat, yang tak saya ketahui kebenarannya.

So, bila ingin adil pada siapa pun, utarakan apa yang kau ketahui kebenaranya. Karena mungkin kebenaran tersebut harus diketahui oleh lebih banyak orang, sehingga mereka dapat terhindar dari sebuah keburukan. Tapi diamlah saat kau tak tahu kebenarannya. Karena kau mungkin akan bersikap tidak adil pada seseorang. 
Yang saya ketahui dan yang tak saya ketahui
Item Reviewed: Yang saya ketahui dan yang tak saya ketahui 9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.

Komentar Terbaru

Just load it!