Yup! Istilah
“senggol bacok!” biasanya diucapkan oleh seseorang yang sedang dalam kondisi tertekan.
Sehingga bila ada tekanan lagi, meskipun sedikit, lebih baik dia akan “membacok”
(membunuh) orang yang menimbulkan tekanan itu.
Saya sempat merasakan
situasi “senggol bacok” selama beberapa hari dalam minggu lalu. Ketidakpastian
dan kesalahpahaman yang jadi biang kerok situasi itu. Saya, yang kata beberapa
teman termasuk dalam salah satu dari 7 orang sabar versi on the spot, mendadak
jadi temperamental menghadapi situasi tersebut. Susah berpikir jernih dan
cenderung gampang menyalahkan orang lain mendadak jadi tabiat baru saya.
Well…Benar-benar
bukan saya.
Tapi itulah
hidup. Kadang kita tidak bisa memilih situasi. Tapi kita masih diberi ruang
dari Allah untuk memilih cara mengakhiri situasi. Mau lari dari situasi. Mau
diselesaikan secara kasar. Mau diselesaikan baik-baik. Itu pilihan kita.
Selalu ada
pilihan dalam tiap situasi. Meski pilihan itu tidak selalu menyenangkan semua
pihak. Tapi kita harus melihat efek jangka panjangnya untuk semua pihak yang
terlibat. Harus ada kebaikan dalam jangka panjang bagi pilihan yang diambil.
Disinilah kompromi terjadi.
Kompromi
bukan mengorbankan prinsip. Kompromi adalah mengorbankan sedikit keinginan tanpa
perlu mengobankan prinsip kita demi kebaikan bersama. Dan jangan pernah sudi
berkompromi dengan prinsipmu.
Pada
akhirnya, situasi “senggol bacok” ini pelan tapi pasti berakhir manis. Memang
tidak semua keinginan saya terpenuhi. Tapi untuk kebahagian jangka panjang
untuk semua pihak, termasuk saya, why not untuk sedikit berkompromi?
So,
belajarlah sedikit berkompromi tanpa mengorbankan prinsipmu. Sedikit
kebahagiaan yang terlepas, pasti sebanding dengan kebahagiaan yang lebih besar
buat pihak-pihak yang terlibat.

0 comments